![]() |
Logo Forsi 2013 (doc:twitter Forsi Unpad 2013) |
SERIUS, SUMEDANG -- Panitia Festival
Olahraga dan Seni Universitas Padjadjaran (Forsi Unpad) boleh saja bergembira
dengan selesainya acara closing Forsi
yang bertajuk outer space dengan tagline Funtastic 2013. Ribuan penonton
yang memadati Stadion Olahraga Jati Padjadjaran pada Jumat (11/10) sore untuk
menyaksikan The Groove, Two Triple O, serta grand
final dari Putra dan Putri Padjadjaran ini pun terlihat antusias dan
menikmati acara hingga selesai. Namun, tidak sedikit kekurangan dari Forsi yang
kemudian membuat kekecewaan, terutama dari pemenang lomba yang diadakan Forsi.
![]() |
Suasana Forsi pada Jumat (11/10) malam, pengunjung terlihat masih sepi sedangkan ruang yang terdapat pada lapangan Forsi terlalu luas sehingga terlihat perbedaan yang mencolok. (Oktadiora Pratama) |
Pemenang lomba standup comedy Gagah
(19) menyatakan kecewa dengan mekanisme pemberian hadiah saat closing Forsi. “Kecewa gue sama Forsi. Teman gue ngambek tadi (karena mekanisme
pemberian hadiah)” ujar Gagah. Tidak adanya komunikasi antara panitia dengan pemenang
lomba yang membuat Gagah kecewa terhadap Forsi.
Pada September lalu, akun twitter
Forsi menyebutkan “Selamat kepada seluh pemenang. Uang tunai & sertifikat
bisa diambil saat closing
#salamsatuunpad #standupcomedyforsi.” Uang hadiah lomba sebesar Rp1.000.000
yang seharusnya diberikan pada saat closing
ternyata tidak dipenuhi oleh pihak Forsi. Bahkan, pemenang harus menunggu
hingga dua minggu ke depan sampai uangnya bisa diterima. Piala yang diterima
oleh pemenang pada saat penyerahan piala di panggung pun banyak yang tidak
sesuai dengan pemenangnya,
Gagah menambahkan, dirinya seharusnya tampil untuk open mic pada saat closing,
namun, karena materi yang akan dibawakan Gagah dianggap tidak sesuai dengan
ketentuan panitia maka penampilan Gagah dibatalkan mendadak. “Tadi siang, ngedadak gitu (dibatalkannya). Gue batal tampil juga (kata panitia)
gara-gara takut materi porno dan SARA pas tampil. Gue nggak terima, yang porno (materinya) siapa yang kena siapa”
tambah Gagah.
Kurangnya koordinasi antarpanitia juga menyebabkan banyaknya
miskoordinasi, seperti yang diungkapkan salah satu media partner Tofhan (19) menjelaskan kalau dirinya “dioper-oper”
oleh panitia saat ingin meletakkan X-Banner
medianya. “gua dioper-oper sama
panitia pas mau naro X-Banner, katanya nggak boleh naro di sini, terus nggak boleh
naro di sana juga” ujarnya. (OP)
0 comments:
Post a Comment