Oktadiora Pratama

T8/OJ2013                                                                                                       
Oktadiora Pratama
210110120114

Apresiasi Buku Journalism Online Karya Mike Ward

I.                    Rangkuman

Jurnalistik online menjadi salah satu unsur penting dalam dunia jurnalisme karena terbatasnya perantara yang bisa dihasilkan oleh media cetak atau elektronik seperti televisi dan radio. Namun, karena perantara yang tidak terbatas oleh media online, perlu dipertanyakan beberapa hal krusial terhadap semakin merajainya jurnalisme online yang tidak memiliki inti dari jurnalistik seperti media cetak atau elektronik.
Jurnalisme online cenderung menghasilkan jurnalis-jurnalis yang tidak profesional karena lingkupnya yang tidak terbatas, contohnya, selama web media tersebut memiliki konten-konten berita yang menarik maka web tersebut dianggap sebagai salah satu kegiatan jurnalistik, meski terdapat beberapa kesalahan dan pelanggaran yang terdapat di dalamnya. Premis yang digunakan oleh Bob Eggington dalam menganalogikan kegiatan jurnalistik online adalah sebagai intellectual challenge dimana elemen-elemen dari perantara online tersebut harusnya saling mendukung dalam menyajikan konten-konten jurnalistik yang sesuai untuk masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip inti jurnalistik yang terdapat pada media cetak dan elektronik juga harus bisa dijadikan sebagai proses yang digunakan oleh media online sebagai tahapan penciptaan konten-konten dan ide lainnya ke dalam situs media online tersebut karena jurnalisme online merupakan broad church yang bisa merangkul semua lapisan masyarakat karena konten-kontennya, terutama berita dan informasi yang disajikan oleh jurnalis.
Berdasarkan hal di atas, terbentuklah tiga istilah yang sering tertukar maknanya karena dianggap bisa saling dipertukarkan meski sebenarnya maknanya tidak bisa disamakan, yakni digital, internet, dan world wide web. Hal ini diperlukan untuk bisa mengkaji sejauh mana jurnalis dapat memanfaatkan media online secara efektif.
Digital merujuk pada bagaimana proses penerimaan dan pengiriman informasi dilakukan secara digital, baik data-data, teks, gambar, audio, atau video. Sedangkan, online merupakan kegiatan yang dilakukan oleh orang saat melakukan kegiatan dalam jaringan (daring) dan hal ini yang sering disalahkaprahkan oleh orang-orang sebagai kegiatan digital, contohnya, apabila sebuah koran memiliki situs yang menyajikan koran-korannya di situs tersebut, itu dinamakan “online version” dari koran tersebut, bukan digital version. Hal lain yang menjadi salah kaprah adalah internet, dimana internet merupakan infrastruktur yang membuat orang bisa berkomunikasi dengan orang lain di seluruh dunia, termasuk proses pertukaran data seperti gambar, video dan audio, sedangkan world wide web merupakan output dari online dan internet sebagai navigator untuk menjelajah dunia internet.
Perkembangan internet kemudian dimanfaatkan oleh organisasi atau individu untuk mendirikan perusahaan atau situs-situs yang berhubungan dengan jurnalisme online, seperti:
·         Organisasi berita, seperti surat kabar, televisi dan lembaga berita lainnya
·         Organisasi komersial, seperti produsen barang atau perusahaan iklan
·         Organisasi pemerintah pusat dan daerah
·         Kelompok penekan (pressure group) yang ingin mengubah sistem baik di bidang politik, sosial dan lainnya
·         Organisasi non-profit seperti institusi charity atau komunitas
·         Jutaan individu lainnya yang menggunakan web untuk menceritakan tentang obsesi serta keinginan mereka kepada orang lain
Proses jurnalistik sendiri secara luas dapat digambarkan sebagai:
·         Mengidentifikasi peristiwa, fakta, pengalaman, atau pendapat yang menarik bagi pembaca
·         Memeroleh informasi lebih lanjut dan pandangan untuk mengembangkan ide namun tetap melalui proses verifikasi keakuratan dan relevansi
·         Menyeleksi apa yang didapat oleh jurnalis, termasuk material-material yang memiliki nilai berita
·         menyajikan materi dengan akurasi dan kebenaran yang digunakan untuk diinformasikan kepada pembaca
Deskripsi di atas berlaku bagi jurnalisme media apapun, tidak hanya online. Namun, ketika anda menjalankan jurnalisme ini dalam media online maka dampak yang dihasilkan pun berbeda. Dimensi digital memiliki dampak dalam setiap tahapan proses jurnalistik, misalnya akses informasi yang lebih luas dan cepat, hal ini juga memungkinkan pembaca melakukan kontribusi kepada jurnalisme online termasuk mengirimkan berita mereka sendiri atau sering disebut sebagai citizen journalism.
Jurnalisme pada dasarnya memiliki dua bagian penting, yakni meneliti dan melaporkan dan juga rekonstruksi cerita dan publikasi atau penerbitan berita. Meneliti dan melaporkan merupakan kegiatan dimana anda sebagai jurnalis melakukan “pengumpulan” terhadap fakta-fakta yang ada, hal ini juga berkaitan dengan bagaimana cara jurnalis mendapatkan informasi, narasumber, verifikasi informasi dan menganalisis informasi yang ada sedangkan rekonstruksi cerita dan publikasi merupakan kegiatan dimana anda melakukan “send out” berita yang dihasilkan, meski memang terdapat sedikit perpaduan pada dua bagian ini.
Contohnya, saat jurnalis melaporkan kegiatan secara langsung, tentu hal itu berkaitan dengan bagaimana rekonstruksi cerita dan publikasi dilakukan secara bersamaan, meski terkadang memublikasikan berita secara langsung juga dilakukan kegiatan pengumpulan fakta terlebih dahulu.
Jurnalisme online juga menjadi penting saat output yang dihasilkan oleh jurnalis harus disajikan secara luas dan cepat, namun jurnalis harus tetap berpegang pada inti-inti dari aktivitas jurnalistik terutama saat melakukan penelitian dan pelaporan dan rekonstruksi cerita serta penerbitan.
Jurnalisme online memudahkan jurnalis untuk mencari informasi-informasi yang berhubungan dengan fakta berita yang akan dilaporkan, terutama dalam mencari data-data yang tidak bisa ditemukan saat melakukan pencarian informasi biasa. Potensi ini yang kemudian digunakan oleh jurnalis untuk mengubah proses jurnalistik yang notabene merupakan keuntungan, antara lain:
·         Mudahnya informasi didapatkan karena kisaran jarak akses ke informasi yang luas
·         Jumlah data dan informasi yang bisa didapatkan melalui kegiatan online
·         Kecepatan akses terhadap informasi
·         Pilihan yang beragam untuk mengeksekusi informasi yang didapatkan
·         Kemampuan untuk memasuki diskusi atau forum-forum lain melalui newsgroup atau fitur lain yang terdapat pada kegiatan online.

Penerbitan yang dilakukan oleh media juga sempat mengalami kompleksitas karena penerbitan suratkabar harian membutuhkan sinkronisasi berbagai kegiatan oleh berbagai macam orang, namun, setelah ditemukannya jurnalisme online kemudian memudahkan penyebaran informasi yang dilakukan secara dinamis karena penerbitan secara online dapat membuka jalan baru untuk perbedaan informasi yang signifikan dan juga membangun hubungan baru yang lebih baik kepada pembaca.
Pada beberapa poin di atas disebutkan tentang inti jurnalistik, dan hal ini merupakan sebuah kutukan bagi banyak wartawan karena prosesnya harus dijalani secara seksama dan tidak boleh keluar dari jalurnya, seperti yang disebutkan di atas, poin-poin inti dari inti jurnalistik adalah:
·         Mengidentifikasi dan menemukan berita atau informasi yang menarik untuk kepentingan pembaca
·         Mengumpulkan bahan yang dibutuhkan untuk menceritakan kisah atau menyediakan informasi
·         Material terbaik dalam berita haruslah dipilih sebaik mungkin agar tidak menjadi berita kering
·         Informasikan material yang didapat seefektif mungkin
Jurnalis media cetak atau elektronik harus mengikuti proses di atas untuk menghasilkan sekuensi berita agar menjadi sebuah berita yang padu dan juga informasi yang berimbang, namun, pengaplikasian pada jurnalisme online berbeda. Perantara online yang tidak terbatas membuat pembaca bisa memilih apa yang mau mereka baca dan tidak mereka baca, sehingga terkadang proses dari empat inti jurnalistik tadi diabaikan oleh jurnalis, namun, empat proses tadi tetap menjadi inti yang harus dijadikan landasan bagi semua jurnalis dalam membuat berita agar tercipta berita yang berimbang.
Cara terbaik bagi jurnalis online untuk menghasilkan berita yang akurat dan berimbang adalah mereka tahu untuk siapa mereka menulis berita dan apakah berita yang akan dihasilkan itu bisa mengikat pembaca dalam konteks nilai berita. Keuntungan media online, seperti yang disebutkan di atas, adalah kemudahan untuk mencari berita karena jangkauan yang luas, sehingga jurnalis harus mencari ranah baru untuk angle sebuah berita agar tetap menarik pembaca dan juga jurnalis harus berani bereksperimen untuk membuat konten baru yang tetap menarik minat pembaca, bahkan jurnalis online juga harus berani untuk meminta pendapat kepada pembaca online karena kegiatan jurnalisme online memang membutuhkan feedback dari pembacanya.
Banyak cara bagi jurnalis untuk mendapatkan informasi seputar berita, terutama dari jurnalisme online. Sumber-sumber berita yang didapatkan bisa diambil dari penglihatan langsung jurnalis sebagai orang yang memang ditugaskan untuk mencari berita seakurat dan seaktual mungkin. Namun, tidak menutup kemungkinan jika jurnalis bisa mendapatkan dari data-data tertulis seperti press releases dan lainnya sebagai salah satu dari informasi untuk membuat berita. Perlu diingat, jurnalis juga harus memerhatikan informasi yang akan diambil, jangan sampai informasi yang diambil hanya memiliki sedikit minat pembaca, atau tidak memiliki potensi untuk menjadi besar (beritanya), serta pernah diberitakan sebelumnya.
                Penulisan berita yang dilakukan oleh jurnalis juga tidak boleh sembarangan, karena kunci dari berita adalah bagaimana penulisnya bisa menyajikan tulisannya secara menarik dan tidak memihak, karena saat tulisan jurnalis tidak berimbang atau tidak menarik, maka pembaca juga tidak menjadi tertarik terhadap tulisannya sebagus apapun berita yang dihasilkan. Tulisan yang menarik dihasilkan dari sejauh mana pengalaman penulis membaca referensi yang ada, dalam hal ini, jurnalis harus membaca banyak surat kabar atau media lain yang memang hal ini berkaitan dengan cara penulisannya. Semakin banyak referensi bacaan jurnalis, maka jurnalis akan semakin kritis dalam pembawaan beritanya. Meski begitu, ide dan rekonstruksi cerita yang diinginkan oleh penulis berita juga haruslah sesuai dengna keinginan pembaca, karena rekonstruksi yang rumit tentu tidak akan bisa dimengerti oleh pembaca.
Jurnalis juga harus mementingkan struktur berita yang disebut sebagai piramid berita. Isi berita yang penting haruslah diletakkan pada awal berita, atau pada top of the pyramid karena semakin ke bawah biasanya isi beritanya tidak sepenting berita di atasnya. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan inverted pyramid dimana isi berita yang penting terdapat pada akhir-akhir berita, bukan pada awal berita. Keuntungan dari piramid ini adalah pembaca bisa mendapatkan esensi beritanya hanya dari awal paragraf sebuah berita, dan juga editor dimudahkan oleh jurnalis karena bisa memotong berita di tengah dan akhir berita tanpa harus mengubah esensi beritanya.
Jakob Nielsen menyebutkan tiga peraturan utama bagi jurnalis yang akan menulis berita di web:
·         Singkat – penulisan di web harus tidak lebih dari 50% kesamaan isi berita yang digunakan untuk berita yang sama di media cetak
·         Tulisan yang mudah dimengerti – gunakan paragraf pendek dan fitur bullets and numbering untuk berita yang ada di berita online, jangan samakan dengan berita cetak yang paragrafnya panjang.
·         Gunakan hyperlink­ – hal ini diperlukan untuk berita yang panjang, agar tidak menghabiskan waktu pembaca untuk membaca berita yang panjang di satu halaman.
Crawford Kilian juga menambahkan, pembaca berita online biasanya merupakan pembaca yang melakukan teknik skimming atau scanning, sehingga dibutuhkan cara lain untuk memikat perhatian mereka, diantaranya:
·         Gunakan headline dan teks yang sederhana dan informatif
·         Gunakan banyak kutipan langsung
·         Gunakan pertanyaan, karena pembaca senang membuat jurnalis mencari jawaban atas pertanyaan berita
·         Gunakan laporan yang tidak biasa, karena pembaca senang dikejutkan dengan berita-berita yang aneh
·         Tujukan berita kepada pembaca dengan tepat
Pada dua bab terakhir, buku ini menjelaskan tentang bagaimana cara mengoperasikan HTML (hypertext mark-up language) dan juga cara membuat tata letak yang baik bagi sebuah laman web.

II.                  Apresiasi

Buku Jurnalisme Online karangan Mike Ward ini cukup menarik minat saya untuk memahami apa itu jurnalisme online saat saya membaca judul bukunya, namun, apa yang saya dapatkan justru berbanding terbalik dengan ekspektasi saya. Hal ini dikarenakan apa yang saya harapkan, yakni mendapat suatu pelajaran baru tentang jurnalisme online ternyata tidak bisa didapatkan dari buku ini, karena buku ini justru membahas tentang apa-apa saja yang diperlukan oleh wartawan dalam membuat berita, tidak berbeda dengan buku-buku jurnalistik lainnya.
Buku yang tertulis dalam bahasa inggris ini juga menjadi kendala saya dalam membaca tulisan karya Mike Ward, namun, ada yang cukup menggelitik menurut saya, yakni kata “scannability” yang terdapat pada halaman 128, subbab writing for online. Pada halaman itu disebutkan poin-poin yang diucapkan oleh Jakob Nielsen, salah satunya adalah write for scannability. Pertama kali melihat kata itu, yang ada di benak saya adalah arti “bisa dipindai” atau bisa discan, namun, saat saya melihat kamus Inggris – Indonesia terbitan Indira karya A.s Hornby dan E.C Parnwell dan diterjemahkan oleh Siswoyo, tidak terdapat kata scannability dan saat saya mencari kata tersebut melalui search engine, juga tidak terdapat arti kata scannability, entah itu merupakan hasil kesalahan penulisan oleh penulis atau memang ada kosakata yang salah dari penulis.
Kelemahan dari buku ini sendiri menurut saya adalah tidak dijelaskannya kasus-kasus yang berhubungan dengan independensi media terutama dari media online karena hal ini yang menjadi perhatian bagi semua pemerhati media atau juga akademisi jurnalistik, malah, buku ini menurut saya tidak terfokus dalam menjabarkan apa yang hendak dibahas dalam buku ini, karena dari 7 bab, 5 di antaranya berhubungan dengan media cetak dan elektronik, untuk media online sendiri baru dibahas pada bab 5. Namun, hal ini ditutupi dengan penjelasan konkret yang memang tidak terlalu berhubungan dengan media online namun tetap menjelaskan tentang dasar-dasar jurnalistik. Buku ini juga menjelaskan tentang piramida terbalik seperti yang tertulis pada buku Jurnalistik Indonesia karya Harris Sumadiria, dan bahkan dijelaskan secara lebih lengkap mengapa membutuhkan sistem piramida terbalik.
Masalah konten dari buku ini, buku jurnalisme online ini juga tidak menjelaskan dengan baik apa tugas wartawan media online dalam melakukan pemberitaan secara online karena buku ini menurut saya lebih mengulas tentang bagaimana perkembangan tentang media online, padahal, kalau buku ini bisa menjelaskan tentang tugas wartawan seperti buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach, tentu buku ini akan semakin menarik untuk dibaca mengingat apa yang dituliskan oleh Mike Ward dalam bukunya ini menjelaskan ranah wartawan media online dan cetak itu berbeda ,namun tidak dijelaskan secara konkret.
Mike Ward juga menjelaskan apa yang harus dilakukan wartawan adalah verifikasi data, namun Mike Ward tidak menjelaskan dengan konkret verifikasi data seperti apa yang harus dilakukan oleh wartawan media online karena hal ini berkaitan dengan keberimbangan serta independensi fakta dan data yang dihasilkan oleh wartawan, tanpa adanya verifikasi data yang akurat, tentu berita yang terdapat pada media online tidak bisa dipastikan kebenarannya, mengingat apa yang dikatakan Mike Ward juga tentang jarak atau ruang lingkup dari berita online lebih jauh dari berita cetak.
Pada buku Bill Kovach tentang Sembilan Elemen Jurnalisme juga dijelaskan tentang hati nurani wartawan dalam memberitakan sesuatu, dan pada buku Mike Ward ini tidak dijelaskan sama sekali tentang kewajiban wartawan dalam membuat berita online, karena kembali, apa yang disajikan oleh Mike Ward lebih mengutamakan teknis dibanding konsep-konsep dasar yang harus dimiliki seorang wartawan sebelum memberitakan sesuatu yang ternyata menurut saya lebih penting untuk dibahas dalam satu bab khusus dibanding hanya tersirat pada subbab-subbab tertentu. Hal ini juga yang menjadi kelemahan buku Mike Ward, karena Mike Ward hanya menjelaskan sesuatu yang sifatnya penting dalam subbab-subbab sedangkan apa yang tidak terlalu penting dibahas dalam satu bab, bahkan, apa yang sudah dibahas pada subbab dibahas kembali pada satu bab khusus, seperti researching and reporting yang sempat dibahas pada subbab sebelum akhirnya dibahas pada bab khusus.

Daftar Pustaka

Sumadiria, AS Haris. Jurnalistik Indonesia : Menulis Berita dan Feature. 2010. Simbiosa Rekatama Media:Jakarta
Kovach, Bill & Rosentiel, Tom. Sembilan Elemen Jurnalisme. 2006. PANTAU:Jakarta
Siswoyo. Kamus Inggris - Indonesia. 1969. PT. Indira:Jakarta

0 comments:

Post a Comment